Sabtu, 25 Januari 2014

INI BUKANLAH AKHIR…


"hai, apa kabar ?"
Tiga kata yang mengawali sms pertamaku, yang ku kirim kepada sang mantan. tak lama itu, 1 pesan ku terima, dan itu adalah pesan dari sang mantan, dia membalas pesan ku.
"baik, kalau kamu???" begitulah balasannya.
"kabarku baik kok, kamu lagi ngapain?"
5 menit...10 menit...30 menit berlalu, pesanku juga belum di balasnya, kecewa, tapi aku mengerti, aku hanyalah bagian dari masa lalunya. dan juga aku tau dia orang yang sangat sibuk, sibuk dengan pekerjaan nya sebagai calo, jual beli mobil, bisa di bilang dia cowok yang tajir, tapi bukan itu yang ku lihat dari dia. Tapi cara dia menjaga ku, perhatian nya, humorisnya dan pemalunya. Meski dia bukan pria yang baik, ya dia bukan pria yang baik, dia pria yang selalu hidup dalam gemerlap malam, diskotik, alcohol dan yahh begitulah.
Mungkin beberapa orang menganggap aku bodoh, karna mau berpacaran dengan pria seperti itu, atau sebagian menganggap aku adalah cewek matre, whatever aku tidak peduli apa kata orang. Awalnya, aku menerima dia karna aku ingin membuatnya berubah menjadi lebih baik, tapi malah kebablasan menjadi sayang dan sangat menyayangi nya. You know why ???  ya tadi itu, dia menjagaku, bahkan untuk memegang tanganku pun, dia bertanya dulu pada ku, apakah dia boleh memegang tanganku atau gak. Dia benar benar menghargaiku, aku percaya, sebejat nya pria, dia tidak akan mau merusak atau menyakiti wanita yang sangat dia sayangi. Dan dialah salah satu pria nya, yang aku temui.
Aku terus mengingat saat aku dan dia bersama, yahh sungguh sangat di sayangkan karna hubungan kami harus berakhir. Aku gagal membuatnya berubah dan juga karna dia terlalu dan sangat sibuk. Tapi, aku tidak pernah bisa untuk membencinya. Eh…tunggu !! HP ku bergetar, ada 1 pesan masuk, awalnya aku berfikir itu pesan dari teman ku atau operator. Yahh nama nya juga jomblo, HP nya nganggur, sepi, gak ada pesan masuk selain operator. Tapi saat ku lihat ternyata dari Tedy, sang mantan. Saat aku membaca pesannya, entah kenapa dada ku tiba tiba terasa sesak,dan air mata ku mengalir.
“aku lagi nonton tv din. Oya…dina, habis imlek ini aku akan ke Jakarta mungkin gak akan balik ke batam lagi. Aku akan menetap disana. Aku udah gak kerasan lagi disini. Aku mau berubah din, semoga aja aku bisa. Dina…semoga kamu mendapatkan pria yang baik ya nanti.”
Aku tak tahu harus membalas apa, jujur aku gak ingin dia pergi. Meskipun aku tahu, walau dia tetap disini, kami gak akan bersama lagi. Tapi setidaknya, kami masih bisa bertemu. Rasa nya aku ingin menghapus hari raya imlek dari kalender, biar dia tidak jadi pergi.
“secepat itu ted ?? maaf , aku gak bisa membuat kamu berubah. Kalau boleh, aku ingin ketemu kamu, terakhir kali nya, bisa ???.iya amin, semoga kamu juga ya”
Air mataku terus mengalir, perasaan ini masih ada buat dia. Aku tidak tau, udah berapa lama hubungan aku dan dia berakhir. Kurasa udah sangat lama, tapi rasa ini benar benar tidak bisa ku hapus. Entah kenapa, aku benar benar tidak tau kenapa, hanya dengan dia aku seperti ini. Biasa nya, dengan cepat aku bisa menghilangkan rasa sayangku, tapi tidak saat aku dengan nya.
“iya din, nanti sebelum aku pergi, kita ketemu kok. Ntar aku kabarin ya”
“iya ted, makasih ya”
Tidak ada balasan sms lagi setelah itu. Semenjak mendengar kabar itu, aku benar benar sedih. Entahlah, aku tidak bisa berkata, mau tidak mau aku harus siap untuk kehilangan.
Besok imlek, dan hari ini tiap jam aku terus melihat hp ku, menunggu kabar dari tedy. Hingga malam pun, kabar dari dia juga tidak ada. Itu membuatku tidak bisa tidur, melainkan membuat ku menangis. Air mataku, mengantarku ke alam mimpi.
          Saat aku terbangun di pagi harinya, aku langsung melihat hp ku, dan disitu ada 1 pesan masuk, dengan cepat langsung ku membaca nya. Dan dengan sangat kecewa, pesan itu dari operator, mengingatkan masa aktif kartu sebentar lagi dan harus melakukan pengisian pulsa. Aku pun bergegas ke kamar mandi, dan membersihkan seluruh badanku. Setelah selesai, aku pun keluar menuju konter untuk mengisi pulsa.
          Saat di jalan, hp ku berbunyi. Ku lihat, nama penelpon nya adalah tedy,dengan cepat aku langsung menjawab nya.
          “halo ted…” sapa ku.
          “halo din, lagi dimana ?” jawab nya.
          “di ruma, kenapa ??”
          “aku mau ketemu kamu, aku jemput ya”
          “ohh…oke ! aku tunggu”
          Telpon pun terputus, antara sedih dan gembira. Aku tidak bisa mengungkapkan apa yang ku rasa. Setelah selesai mengisi pulsa, aku pun langsung bergegas pulang. Tidak jauh dari rumahku, sedan corolla hitam parkir tepat di depan rumah ku. Dan itu adalah mobilnya tedy. Dengan sedikit berlari, aku pun mengampiri nya.
          “hai ted, udah lama ??”
          “hai din, gak kok. Baru aja nyampai. Kamu dari mana ?”
          “ohh, habis isi pulsa.”
          “ohh, ya udah. Ayok...!! pergi sebentar”
          “ok…”
          Aku dan tedy pun masuk ke mobil. Dalam perjalanan kami hanya berdiam diri, aku benar benar gak tau harus bicara apa. Karna, saat itu aku hanya menahan air mata ku, agar tidak keluar. Mobil berhenti, di dekat pantai. Kami pun turun dari mobil, dan duduk di sebuah pondok  yang tidak jauh dari bibir pantai.
          “din…” panggil tedy.
          “ya ??”
          “besok jam 9 pagi aku berangkat”
“hm…besok ya ?? hati hati ya di jalan” jawab ku singkat, pandangan ku terus kearah pantai. Aku gak sanggup untuk menatap wajahnya.
“iya din, makasih ya. Aku menetap disana, dan gak balik lagi kesini”
“hhmm…berarti kita gak akan pernah ketemu lagi dong ya, kan jauh Jakarta batam”
“insya Allah, kita pasti akan ketemu lagi”
“ted…aku berharap ini bukanlah pertemuan terakhir dan aku berharap gak akan ada pertemuan terakhir.  Ini…..” aku tidak bisa melanjutkan kata kata dan juga tidak bisa menahan air mata.
“ ini juga bukan sebuah perpisahan” dia melanjutkan perkataanku.
“ini juga bukan akhir ted”
“aku sayang sma kamu din, tapi aku juga gak pantas buat kamu. Maafin aku din, kamu pasti dapat yang terbaik”
“aku juga sayang sama kamu. Besok hati hati di jalan ya, semoga disana kamu jadi yang lebih baik” ucapku sambil mengusap air mata. Dia terus memandangku, dia masih seperti dulu. Dari awal tadi, sampai sekarang sedikit pun dia tidak ada menyentuhku.
“ya udah, kita pulang yuk” ajaknya.
Dia pun berjalan menuju mobil,dan aku mengikutinya dari belakang. Suasana kembali hening, sama seperti saat kami pergi tadi. Mobil pun berhenti tepat di depan rumahku.
“makasih ya, udah mau ketemu” ucapku, sebelum keluar dari mobil.
“din…” panggil nya, yang langsung memegang tanganku dengan erat. Aku terkejut saat dia memegang tanganku. Saat dia sadar, kalau aku memperhatikan tangan nya, dengan cepat dia melepas genggaman nya.
“ma…maaf din. Aku gak maksud…” ucap nya gugup.
“gak apa apa kok” balasku sambil tersenyum.
“aku gak tau din, mau ngomong apa lagi. Tapi keputusan ku udah matang untuk ninggalin batam"
“gak apa apa, aku ngerti kok. Aku juga gak bisa nahan kamu disini.”
“ok… jaga diri kamu baik baik ya. Aku pulang dulu”
“iya sama sama. Kamu juga ya”
Aku pun keluar dari mobil. Dan mobil tedy pun berlalu pergi.

Keesokan pagi nya sekitar pukul Sembilan kurang. Satu pesan ku terima, dan itu dari tedy.
“din, bentar lagi aku berangkat. Makasih selama ini kamu sabar menghadapi cowok seperti aku. makasih juga, kamu udah memberi warna dalam hidupku. selamat tinggal, semoga akan kamu temui kembali kebahagiaan baru. See you again”
“iya, sama sama.makasih juga, kamu udah ngizinin aku, menjadi bagian hidup mu dan bagian dari masa lalu kamu. Kamu hati hati ya. See you to J
Ini bukan akhir, kematian lah yang akan menjadi akhir segala nya J.

==> END <==

Tidak ada komentar:

Posting Komentar