INI BUKANLAH AKHIR…
"hai, apa kabar
?"
Tiga kata yang mengawali
sms pertamaku, yang ku kirim kepada sang mantan. tak lama itu, 1 pesan ku
terima, dan itu adalah pesan dari sang mantan, dia membalas pesan ku.
"baik, kalau
kamu???" begitulah balasannya.
"kabarku baik kok,
kamu lagi ngapain?"
5 menit...10 menit...30
menit berlalu, pesanku juga belum di balasnya, kecewa, tapi aku mengerti, aku
hanyalah bagian dari masa lalunya. dan juga aku tau dia orang yang sangat
sibuk, sibuk dengan pekerjaan nya sebagai calo, jual beli mobil, bisa di bilang
dia cowok yang tajir, tapi bukan itu yang ku lihat dari dia. Tapi cara dia
menjaga ku, perhatian nya, humorisnya dan pemalunya. Meski dia bukan pria yang
baik, ya dia bukan pria yang baik, dia pria yang selalu hidup dalam gemerlap
malam, diskotik, alcohol dan yahh begitulah.
Mungkin beberapa orang
menganggap aku bodoh, karna mau berpacaran dengan pria seperti itu, atau
sebagian menganggap aku adalah cewek matre, whatever aku tidak peduli apa kata
orang. Awalnya, aku menerima dia karna aku ingin membuatnya berubah menjadi lebih
baik, tapi malah kebablasan menjadi sayang dan sangat menyayangi nya. You know
why ??? ya tadi itu, dia menjagaku,
bahkan untuk memegang tanganku pun, dia bertanya dulu pada ku, apakah dia boleh
memegang tanganku atau gak. Dia benar benar menghargaiku, aku percaya, sebejat
nya pria, dia tidak akan mau merusak atau menyakiti wanita yang sangat dia
sayangi. Dan dialah salah satu pria nya, yang aku temui.
Aku terus mengingat saat
aku dan dia bersama, yahh sungguh sangat di sayangkan karna hubungan kami harus
berakhir. Aku gagal membuatnya berubah dan juga karna dia terlalu dan sangat
sibuk. Tapi, aku tidak pernah bisa untuk membencinya. Eh…tunggu !! HP ku
bergetar, ada 1 pesan masuk, awalnya aku berfikir itu pesan dari teman ku atau
operator. Yahh nama nya juga jomblo, HP nya nganggur, sepi, gak ada pesan masuk
selain operator. Tapi saat ku lihat ternyata dari Tedy, sang mantan. Saat aku
membaca pesannya, entah kenapa dada ku tiba tiba terasa sesak,dan air mata ku
mengalir.
“aku lagi nonton tv din.
Oya…dina, habis imlek ini aku akan ke Jakarta mungkin gak akan balik ke batam
lagi. Aku akan menetap disana. Aku udah gak kerasan lagi disini. Aku mau
berubah din, semoga aja aku bisa. Dina…semoga kamu mendapatkan pria yang baik
ya nanti.”
Aku tak tahu harus
membalas apa, jujur aku gak ingin dia pergi. Meskipun aku tahu, walau dia tetap
disini, kami gak akan bersama lagi. Tapi setidaknya, kami masih bisa bertemu. Rasa
nya aku ingin menghapus hari raya imlek dari kalender, biar dia tidak jadi
pergi.
“secepat itu ted ?? maaf
, aku gak bisa membuat kamu berubah. Kalau boleh, aku ingin ketemu kamu,
terakhir kali nya, bisa ???.iya amin, semoga kamu juga ya”
Air mataku terus
mengalir, perasaan ini masih ada buat dia. Aku tidak tau, udah berapa lama
hubungan aku dan dia berakhir. Kurasa udah sangat lama, tapi rasa ini benar
benar tidak bisa ku hapus. Entah kenapa, aku benar benar tidak tau kenapa,
hanya dengan dia aku seperti ini. Biasa nya, dengan cepat aku bisa
menghilangkan rasa sayangku, tapi tidak saat aku dengan nya.
“iya din, nanti sebelum
aku pergi, kita ketemu kok. Ntar aku kabarin ya”
“iya ted, makasih ya”
Tidak ada balasan sms
lagi setelah itu. Semenjak mendengar kabar itu, aku benar benar sedih. Entahlah,
aku tidak bisa berkata, mau tidak mau aku harus siap untuk kehilangan.
Besok imlek, dan hari
ini tiap jam aku terus melihat hp ku, menunggu kabar dari tedy. Hingga malam
pun, kabar dari dia juga tidak ada. Itu membuatku tidak bisa tidur, melainkan
membuat ku menangis. Air mataku, mengantarku ke alam mimpi.
Saat aku terbangun di pagi harinya, aku langsung melihat hp
ku, dan disitu ada 1 pesan masuk, dengan cepat langsung ku membaca nya. Dan dengan
sangat kecewa, pesan itu dari operator, mengingatkan masa aktif kartu sebentar
lagi dan harus melakukan pengisian pulsa. Aku pun bergegas ke kamar mandi, dan
membersihkan seluruh badanku. Setelah selesai, aku pun keluar menuju konter
untuk mengisi pulsa.
Saat di jalan, hp ku berbunyi. Ku lihat, nama penelpon nya
adalah tedy,dengan cepat aku langsung menjawab nya.
“halo ted…” sapa ku.
“halo din, lagi dimana ?” jawab nya.
“di ruma, kenapa ??”
“aku mau ketemu kamu, aku jemput ya”
“ohh…oke ! aku tunggu”
Telpon pun terputus, antara sedih dan gembira. Aku tidak
bisa mengungkapkan apa yang ku rasa. Setelah selesai mengisi pulsa, aku pun
langsung bergegas pulang. Tidak jauh dari rumahku, sedan corolla hitam parkir
tepat di depan rumah ku. Dan itu adalah mobilnya tedy. Dengan sedikit berlari,
aku pun mengampiri nya.
“hai ted, udah lama ??”
“hai din, gak kok. Baru aja nyampai. Kamu dari mana ?”
“ohh, habis isi pulsa.”
“ohh, ya udah. Ayok...!! pergi sebentar”
“ok…”
Aku dan tedy pun masuk ke mobil. Dalam perjalanan kami
hanya berdiam diri, aku benar benar gak tau harus bicara apa. Karna, saat itu
aku hanya menahan air mata ku, agar tidak keluar. Mobil berhenti, di dekat
pantai. Kami pun turun dari mobil, dan duduk di sebuah pondok yang tidak jauh dari bibir pantai.
“din…” panggil tedy.
“ya ??”
“besok jam 9 pagi aku berangkat”
“hm…besok ya ?? hati
hati ya di jalan” jawab ku singkat, pandangan ku terus kearah pantai. Aku gak
sanggup untuk menatap wajahnya.
“iya din, makasih ya. Aku
menetap disana, dan gak balik lagi kesini”
“hhmm…berarti kita gak
akan pernah ketemu lagi dong ya, kan jauh Jakarta batam”
“insya Allah, kita pasti
akan ketemu lagi”
“ted…aku berharap ini
bukanlah pertemuan terakhir dan aku berharap gak akan ada pertemuan
terakhir. Ini…..” aku tidak bisa
melanjutkan kata kata dan juga tidak bisa menahan air mata.
“ ini juga bukan sebuah
perpisahan” dia melanjutkan perkataanku.
“ini juga bukan akhir
ted”
“aku sayang sma kamu
din, tapi aku juga gak pantas buat kamu. Maafin aku din, kamu pasti dapat yang
terbaik”
“aku juga sayang sama
kamu. Besok hati hati di jalan ya, semoga disana kamu jadi yang lebih baik”
ucapku sambil mengusap air mata. Dia terus memandangku, dia masih seperti dulu.
Dari awal tadi, sampai sekarang sedikit pun dia tidak ada menyentuhku.
“ya udah, kita pulang
yuk” ajaknya.
Dia pun berjalan menuju
mobil,dan aku mengikutinya dari belakang. Suasana kembali hening, sama seperti
saat kami pergi tadi. Mobil pun berhenti tepat di depan rumahku.
“makasih ya, udah mau
ketemu” ucapku, sebelum keluar dari mobil.
“din…” panggil nya, yang
langsung memegang tanganku dengan erat. Aku terkejut saat dia memegang
tanganku. Saat dia sadar, kalau aku memperhatikan tangan nya, dengan cepat dia
melepas genggaman nya.
“ma…maaf din. Aku gak
maksud…” ucap nya gugup.
“gak apa apa kok”
balasku sambil tersenyum.
“aku gak tau din, mau
ngomong apa lagi. Tapi keputusan ku udah matang untuk ninggalin batam"
“gak apa apa, aku ngerti
kok. Aku juga gak bisa nahan kamu disini.”
“ok… jaga diri kamu baik
baik ya. Aku pulang dulu”
“iya sama sama. Kamu juga
ya”
Aku pun keluar dari
mobil. Dan mobil tedy pun berlalu pergi.
Keesokan pagi nya
sekitar pukul Sembilan kurang. Satu pesan ku terima, dan itu dari tedy.
“din, bentar lagi aku
berangkat. Makasih selama ini kamu sabar menghadapi cowok seperti aku. makasih juga, kamu udah memberi warna dalam hidupku. selamat tinggal, semoga akan kamu temui kembali kebahagiaan baru. See you
again”
“iya, sama sama.makasih juga, kamu udah ngizinin aku, menjadi bagian hidup mu dan bagian dari masa lalu kamu. Kamu hati
hati ya. See you to J”
Ini bukan akhir,
kematian lah yang akan menjadi akhir segala nya J.
==> END <==

Tidak ada komentar:
Posting Komentar